Dikirim oleh Hendi Purnawan pada
Suasana audiensi bersama AJI dan Monash University di kantor Bawaslu, Jakarta, Rabu, (31/7/2024)/foto: Publikasi dan Pemberitaan Bawaslu.

Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Bawaslu akan melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Monash University dalam mitigasi penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, pada Pemilihan Serentak 2024.

“Ini menjadi penting bagi kami untuk melihat formula apa yang paling tepat untuk mencegah hate speech pada pilkada mendatang. Kedepannya tentu kita akan sama-sama melakukan mitigasi terhadap tahapan pilkada,” kata Anggota Bawaslu Lolly Suhenty dalam audiensi bersama AJI dan Monash University di kantor Bawaslu, Jakarta, Rabu, (31/7/2024).

Koordinator divisi pencegahan, partisipasi dan hubungan masyarakat ini menilai, saat ini Pemilihan Serentak 2024 sudah masuk ke tahapan yang krusial. Hal tersebut membuat potensi ujaran kebencian di media sosial semakin meningkat, percepatan arus informasi di daerah juga semakin deras.

“Benturan pilkada pasti sangat tinggi di daerah. Maka teman-teman AJI dan Monash University dapat memetakan hal ini, sehingga kita punya jurus yang sama untuk meminimalisir terjadinya benturan. Kedepan kita coba buat forum besar untuk berdiskusi lebih jauh mengenai hal ini,” tuturnya.

Dikatakan Lolly, ketiga memiliki kesamaan terkait data riset di dunia maya. Hasil riset Bawaslu menunjukkan Facebook menjadi media sosial yang paling tinggi penyebaran isu ujaran kebencian. Jauh di atas media sosial yang lain.

Perwakilan Monash University, Ika Idris berharap, dalam beberapa waktu ke depan Monash bersama Bawaslu dan masyarakat sipil dapat memastikan isu penting apa yang perlu diawasi pada pemilihan serentak 2024.

Editor: JRP
Fotografer: Hendi Purnawan