Dikirim oleh Hendi Poernawan pada
Deputi Bidang Dukungan Teknis Yusti Erlina dalam audiensi dengan GMH di Kantor Bawaslu, Selasa, (10/2/2026).

Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Deputi Bidang Dukungan Teknis Yusti Erlina mengatakan, Bawaslu membuka pintu kepada organisasi masyarakat (Ormas) dan Non Goverment Organisation (NGO) untuk mendaftar jadi pemantau pemilu 2029. Salah satuya, kata Yusti, Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) yang mengajukan diri menjadi pemantau.

”Bagi yang ingin menjadi pemantau bisa daftar ke Bawaslu. Sebab, personil yang dimiliki Bawaslu sangat terbatas. Maka perlu dukungan dari ormas atau NGO,” katanya dalam audiensi dengan GMH di Kantor Bawaslu, Selasa, (10/2/2026).

Dikatakan Yusti, setelah mendaftar, ormas dan NGO akan diberikan pelatihan terkait pemilu dan pemilihan. Supaya, sambung Yusti, nantinya para pemantau bisa memahami tugas dan fungsi saat melakukan pengawasan pesta demokrasi.

”Nanti akan ada program-program yang diatur biro pengawasan terkait cara menyatukan visi misi dari pemantau untuk menjaga kualitas demokrasi di Indonesia,” tuturnya.

Kepala Biro Fasilitasi Pengawasan Pemilu Eliazar Barus berharap Bawaslu bisa kolaborasi dengan GMH. Salah satunya, lanjut Eliazar, GMH akan terlibat dalam Program Pengawasan Partisipatif (P2P) yang dilaksanakan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia.

”Kami berharap bisa terjun langsung. Bawaslu mengalami kesulitan mencari orang untuk PTPS. Kami meminta nanti teman2 bisa ikut minimal PTPS atau bahkan sampai pengawasan provinsi. Mungkin teman-teman nanti bisa berpartisipasi dalam kegiatan itu,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum GMH Rizki Ulfahadi memberi apresiasi kepada Bawaslu yang menyambut keinginan GMH untuk menjadi pemantau pemilu. Ia berharap pertemuan ini menjadi awal dari pertemuan selanjutnya.

Foto: Hendi Purnawan

Editor: BSW