Submitted by Hendi Poernawan on
Anggota Bawaslu Puadi (kanan) saat membuka Bawaslu Campus Connect bertema Generasi Digital, Demokrasi Transparan di Universitas Muhammadiyah Jakarta, di Jakarta Rabu (12/8/2026).

Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Anggota Bawaslu Puadi ingin Universitas Muhammadiyah Jakarta menjadi laboratorium demokrasi. Menurutnya, kampus bisa menjadi tempat penelitian pemilu, kajian kebijakan, pemetaan risiko, pengembangan teknologi pengawasan, fact-checking, hingga pendidikan literasi digital. Kampus memiliki posisi yang sangat strategis dalam pengembangan demokrasi.

“Saya senang sekali dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini. Mahasiswa FISIP Muhammadiyah silakan datang ke Bawaslu untuk kebutuhan riset, skripsi, tesis, maupun disertasi. Kami terbuka,” katanya saat membuka Bawaslu Campus Connect bertema Generasi Digital, Demokrasi Transparan di Universitas Muhammadiyah Jakarta, di Jakarta, Rabu (12/8/2026). 

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran, Data, dan Informasi ini mengajak mahasiswa untuk berkolaborasi dengan Bawaslu. Kata Puadi, saat ini mahasiswa bukan hanya konsumen media elektronik, tetapi juga agen literasi, agen digital, dan agen perubahan yang ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemilu.

“Posisi mahasiswa sangat penting. Generasi muda bukan hanya hidup dengan teknologi, tetapi juga membentuk dan dibentuk oleh teknologi. Mahasiswa adalah produsen informasi dan penggerak partisipasi,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Puadi berharap Bawaslu Campus Connect menjadi titik temu antara institusi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan generasi muda untuk membangun masa depan demokrasi Indonesia. Menurutnya, demokrasi harus transparan, akuntabel, partisipatif, berintegritas, serta menempatkan manusia dan hak-hak konstitusional warga negara sebagai pusatnya.
 

“Saya berharap forum Bawaslu Campus Connect ini menjadi ruang untuk membangun knowledge-based democracy, yaitu demokrasi yang dibangun di atas pengetahuan, argumentasi, dan partisipasi yang substantif,” tuturnya.


Foto: Hendi Purnawan

Editor: Nofiar