Dikirim oleh Reyn Gloria pada
Pemerhati Hukum Pemilu Masruchah (kedua dari kanan) dalam Ngabuburit Pengawasan bertemakan Penguatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu yang disiarkan langsung di kanal YouTube Bawaslu RI, Kamis (12/3/2026).

Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Pemerhati Hukum Pemilu Masruchah menyampaikan, peran perempuan di ruamng-ruang politik, termasuk dalam pengawasan pemilu perlu kembali. Dia mengapresiasi Bawaslu yang telah melibatkan perempuan terutama melalui Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P).

 

"Saya lihat Bawaslu di bidang partisipasi masyarakat sudah banyak kerja sama dengan gerakan sipil. Banyak juga alumni P2P yang inovasinya baik sekali dan tidak apatis politik," jelasnya dalam Ngabuburit Pengawasan bertemakan Penguatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu yang disiarkan langsung di kanal YouTube Bawaslu RI, Kamis (12/3/2026)

 

Bawaslu, lanjut Masruchah, perlu menjaga komunitas ini untuk dapat mentransfer pengetahuan kepemiluan baik di keluarga maupun lingkungan mereka masing-masing. Menurutnya gerakan ini adalah gerakan yang harus berjalan bersama-bersama.

 

"Pola multilevel ini yang harus didorong. Alumni P2P harus bisa kerja dan gerak bersama, strategi mereka juga luar biasa. Sungguh-sungguh ingin melakukan perubahan, ada dan tidak ada pelatihan dari Bawaslu mereka harus terus ada bergerak," ungkap dia. 

 

Selain itu, Masruchah melihat partisipasi perempuan di ruang-ruang politik sudah membaik walau belum sepenuhnya terwakilkan. Dia meminta Bawaslu juga ikut mendorong keterwakilan perempuan baik dalam penyelenggara pemilu hingga ranah eksekutif, yudikatif dan legislatif. 

 

"Partisipasi perempuan ke depan, jika dikaitkan hak politik, hak asasi, hak konstitusi kita dorong. Teman-teman perempuan di mana pun berada harus berani maju, kalau ingin melakukan perubahan termasuk di penyelenggara pemilu," tegasnya.

 

Masruchah melihat beberapa ruang-ruang politik memang masih memercayakan perempuan sebagai pemimpinnya. Alasannya, menurut dia, persepektif para pemimpin organisasi politik masih minor dalam melihat peran perempuan. Suara perempuan, tambahnya, masih dianggap sebelah mata.

 

"Jika para tokoh perempuan berani dan bisa masuk ke ruang politik, maka bisa menyuarakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas perempuan di ruang-ruang kepemimpinan," harap Masruchah.

 

Editor: Dey

Foto: Tangkapan Layar YouTube Bawaslu RI