Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Anggota Bawaslu Herwyn JH Malonda mengungkapkan karya video pembelajaran buatan Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota tidak hanya menjadi sarana evaluasi internal. Karya itu juga menjadi warisan digital (digital legacy) jangka panjang untuk memperkuat demokrasi dan literasi pemilu masyarakat.
"Video pembelajaran ini tidak hanya untuk seleksi internal, tetapi juga menjadi media edukasi publik secara luas. Karya ini bahkan dapat menjadi referensi perkuliahan tata kelola pemilu sekaligus menginspirasi para konten kreator," hal tersebut diungkapkan Herwyn dalam Pelaksanaan Penilaian Seleksi Awal (Based Learning Stage) Bawaslu Mengajarkan Volume 2 di Jakarta. Rabu (4/11/2026).
Lanjut Herwyn, dia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim penilai independen dari unsur akademisi, pegiat pemilu, hingga senior Bawaslu. Keterlibatan tim lintas profesi ini, tambah dia, krusial untuk menjamin objektivitas, kedalaman analisis, dan integritas seleksi.
"Kami terus menyesuaikan tata kelola penilaian, termasuk memitigasi potensi konflik kepentingan. Langkah ini dilakukan agar penilaian berjalan adil, transparan, dan terhindar dari persepsi subjektivitas," jelasnya.
Indikator penilaian disusun secara komprehensif mencakup penguasaan substansi, ketepatan analisis, dan keterkaitan dengan Indikator Kinerja Utama (IKU). Penilaian juga menurutnya memperhitungkan efektivitas penyajian visual serta tingkat partisipasi publik.
Melalui kompetisi sehat ini, Herwyn berharap jajaran pengawas di daerah terpacu meningkatkan kapasitas diri. Pemahaman publik terkait pengawasan partisipatif juga diharapkan terbangun lebih awal menyongsong Pemilu 2029.
"Semakin banyak narasi edukatif disebar, semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk mencegah pelanggaran pemilu. Hal ini penting demi mewujudkan pemilu yang demokratis, bermartabat, dan berintegritas," pungkas Herwyn.
Editor: Reyn Gloria
Foto: Istimewa