Manado, Badan Pengawas Pemilihan Umum- Anggota Bawaslu Herwyn JH Malonda menegaskan perlunya transformasi pola kerja pengawas pemilu, khususnya dalam pengelolaan informasi. Menurutnya, pengawas tidak hanya berperan sebagai pengumpul data semata, tetapi harus mampu mengolah setiap temuan menjadi dasar strategi pencegahan dan penindakan.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya kemampuan menyaring kebisingan data (noise) menjadi suara kebenaran (voice) sebagai dasar pengambilan keputusan hukum dan kebijakan kelembagaan.
“Pengawas harus menjadi prosesor data, bukan sekadar kolektor. Satu lembar data yang diolah menjadi strategi kerja jauh lebih bernilai dibandingkan ribuan dokumen yang hanya tersimpan di arsip,” katanya saat membuka giat Bawaslu Membelajarkan Batch III di Kota Manado, Senin (15/12/2025).
Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan pelaksanaan kegiatan di Manado memiliki nilai historis yang kuat dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Menurutnya, Sulawesi Utara memiliki rekam jejak penting sebagai pelopor pemilu pertama di Indonesia pada 1955, khususnya di wilayah Sangihe dan Minahasa yang digelar lebih awal dibandingkan pemilu nasional.
“Nilai sejarah ini harus menjadi energi bagi jajaran pengawas untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas kelembagaan Bawaslu ke depan,” ujar Herwyn dalam sambutannya.
Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menekankan pentingnya pengawas pemilu memiliki pemahaman regulasi yang lebih mendalam dibandingkan peserta pemilu. Ia mengingatkan agar jajaran pengawas tetap adaptif di lapangan tanpa mengabaikan kewaspadaan terhadap berbagai upaya manipulasi aturan.
Yulius juga menitipkan pesan khusus agar Bawaslu meningkatkan pengawasan terhadap media sosial dan media massa guna mencegah potensi adu domba serta menjaga stabilitas dan kondusivitas wilayah.
Selain Herwyn, kegiatan peningkatan kapasitas ini diisi Anggota Bawaslu Totok Haryono, memaparkan materi mengenai dinamika elektoral terkini dan oligarki dalam pemilu sebagai bahan refleksi kritis peserta. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Bawaslu Ferdinand Eskol Tiar Sirait menyampaikan materi Sistem Organisasi dan Tata Kerja Bawaslu untuk menyelaraskan tata kelola dan manajemen administrasi lembaga.
Sebagai bentuk apresiasi, Bawaslu Membelajarkan Batch III ditutup dengan penganugerahan kepada peserta dan tim terbaik. Predikat Presenter Terbaik Individu diraih Wamustofa Hamzah (Kalimantan Timur), Magdalena Yuanita Wake (Nusa Tenggara Timur) dan Badrul Munir (Banten). Kategori Presenter Terbaik Tim, Bawaslu Banten menempati peringkat pertama, diikuti Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kategori Materi Paparan Terbaik diraih Bawaslu Sulawesi Barat, Inovasi Pengawasan Terbaik Sulawesi Utara, dan Kolaborasi Terbaik yakni Kalimantan Barat. Sementara, Kategori Presenter Terfavorit diberikan kepada Bangka Belitung (Batch I), Sumatera Utara (Batch II), dan Bali (Batch III).
Kategori Individu, peserta provinsi terbaik diraih James Welem Ratu (NTT), Liah Culiah (Banten), dan Darma (Sulawesi Tenggara). Sedangkan, P eserta Kabupaten/Kota Terbaik diberikan kepada Carmiati Zumiarti (Keerom), Brilliant Johanes Maengko (Manado), dan Rais Kahar (Halmahera Selatan).
Penulis: Raden
Foto: Humas Bawaslu Sulut