Dikirim oleh Jaka Fajar pada
Suasana Kegiatan Evaluasi Kebijakan Publikasi dan Pemberitaan Bawaslu pada Masa Nontahapan Pemilu di Surabaya, Rabu (26/8/2026).

Surabaya, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Bawaslu mengoptimalkan strategi komunikasi melalui media sosial pada masa nontahapan Pemilu guna meningkatkan kualitas publikasi dan keterbukaan informasi. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kepercayaan publik melalui komunikasi yang edukatif, informatif, dan partisipatif dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek utama pemberitaan.

Akademisi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Neneng Yanti Khozanatu, menggarisbawahi pentingnya mengubah sudut pandang pemberitaan media sosial Bawaslu agar lebih dekat dengan realitas warga di daerah.

“Berita sebaiknya tidak terlalu banyak mengutip kata-kata pejabat, melainkan mengangkat situasi riil masyarakat dengan bahasa yang sederhana, kontekstual, dan menggunakan istilah lokal untuk menjelaskan konsep demokrasi yang abstrak,” ungkap Neneng dalam kegiatan Evaluasi Kebijakan Publikasi dan Pemberitaan Bawaslu pada Masa Nontahapan Pemilu di Surabaya, Rabu (26/8/2026).

Dalam sesi yang sama, perwakilan Kongres Ulama Perempuan Indonesia, Masruchah, menyikapi penguatan peran media sosial Bawaslu dari kacamata inklusivitas dan pemenuhan hak-hak kelompok rentan.

“Humas adalah wajah kita, Bawaslu. Bagaimana GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dapat menjadi cermin humas Bawaslu di berbagai level? Artinya, demokrasi adalah untuk semua,” ungkap Masruchah.

Sementara itu, Akademisi Stikosa-AWS, Jokhanan Kristiyono, menekankan pentingnya memanfaatkan jeda tahapan Pemilu untuk mengedukasi masyarakat melalui pengelolaan konten yang relevan.

“Justru di masa nontahapan ini kita punya kesempatan untuk memperkuat edukasi, membangun kepercayaan publik, dan mempersiapkan masyarakat agar lebih memahami tugas dan fungsi Bawaslu. Fungsi humas bukan sekadar mengabarkan, melainkan mengedukasi publik,” ungkap Jokhanan.

Melalui arah kebijakan ini, Bawaslu berkomitmen menyelaraskan publikasi pusat dan daerah melalui pendekatan kearifan lokal serta keterbukaan informasi, sehingga kesadaran politik masyarakat tetap terjaga secara berkelanjutan dalam menghadapi tahapan Pemilu mendatang.

Foto: Tim Publikasi dan Pemberitaan Bawaslu
Editor: Nofiar