• English
  • Bahasa Indonesia

Figur Lebih Dominan, Kegagalan Parpol?

Depok, Badan Pengawas Pemilu – Tidak dapat dipungkiri pada saat pelaksanaan Pemilu 2014 lalu, banyak suara partai yang masuk bukan dilihat dari visi dan misi yang diusung oleh partai tersebut, melainkan adanya sosok atau figur yang dipilih masyarakat, terlepas dari latar belakang apapun partai politik pendukungnya.

Demikian disampaikan oleh Dosen Politik Universitas Indonesia (UI) Syahrul Hidayat, saat memberikan pemaparan soal Refleksi 16 Tahun Perjalanan Demokrasi dalam Konferensi Nasional Ilmu Politik yang diselenggarakan oleh FISIP Universitas Indonesia, di Depok, Senin (25/8). Menurutnya,  fenomena seperti ini, lama kelamaan bisa membuat partai politik berada pada ambang kehancuran.

Hal tersebut didasarkan pada pengamatannya pada partai politik yang ada di negara-negara Eropa Barat. Beberapa partai politik di sana mengalami kegagalan dan tidak berdaya karena telah digantikan oleh media massa dan kelompok-kelompok kepentingan.

“Semua informasi politik yang dibutukan masyarakat tidak hanya lewat parpol tetapi juga media dan kelompok kepentingan. Bahkan media massa dan kelompok kepentingan sudah mengambil peran-peran parpol tersebut. Sebaliknya, parpol di sana mengalami penurunan,” tutur Syahrul.

Akibatnya, tambah Syahrul, kaderisasi dan rekrutmen terhadap anggota semakin sulit dilaksanakan. Jumlahnya kini menurun sangat drastis. “Inilah yang harus menjadi pertimbangan bagi parpol yang berada di negara dunia ketiga, seperti Indonesia,” ungkapnya.

Mengapa parpol di Indonesia juga bisa mengalaminya? Syahrul yang lama menghabiskan pendidikannya di Inggris tersebut, mengatakan bahwa ciri-ciri penurunan parpol yang terjadi di Eropa Barat hampir sama dengan parpol yang terjadi di Indonesia. Masyarakat yang semakin apatis kepada partai disertai keuangan partai yang terus merosot.

Keuangan partai yang memprihatinkan, tambahnya, membuat parpol akan mudah dimasuki oleh orang-orang yang memiliki modal besar. Pebisnis pun mulai masuk dan merangsek dalam dunia politik dengan imbas jabatan penting dalam tubuh partai politik, bahkan di pemerintahan.

“Selain itu partai akan mencari sumber dana yang ilegal. Jika kita buka catatan Komisi Pemberantasan Korupsi, maka ada berapa banyak  anggota parlemen dan kepala daerah yang masuk bui karena kasus korupsi. Jadi bukan hal yang luar biasa ketika parpol dilihat sebelah mata?” tuturnya.

Sementara itu, Dosen Politik UI, Yolanda Panjaitan mengungkapkan bagaimana partai politik yang memburuk akan sangat mempengaruhi kinerja parlemen yang ikut-ikutan memburuk. Jadi jika ingin memperbaiki parlemen, maka sebaiknya partai politik juga dibenahi.

Ia juga mengajak agar akademisi terus memberikan catatan, masukan, dan kajian-kajian terhadap parlemen di Indonesia. Sebab saat ini, kajian tentang parlemen masih sangat minim dan terbatas.

 

Penulis        : Falcao Silaban

Share

Informasi Publik

Regulasi

Whistleblowing System

Helpdesk Keuangan

SIPS

SAKIP

Sipeka Bawaslu

SIPP Bawaslu

Simpeg Bawaslu

e-Announcement LHKPN

Agenda Bawaslu

Waktu:
Kamis, 17 September 2020 WIB
Tempat :
Daring Komisi Nasional Hak Asasi <Manusia
Waktu:
Senin, 7 September 2020 WIB
Tempat :
Daring CNN Indonesia
Waktu:
Senin, 7 September 2020 WIB
Tempat :
Lantai 4 Bawaslu

Video Bawaslu

newSIPS 2019
newSIPS 2019

Mars Bawaslu

Mars Pengawas PEMILU +text
Mars Pengawas PEMILU +text

Zona Integritas Bawaslu