Jakarta, Badan Pengawas Pemilihan Umum — Anggota Bawaslu, Lolly Suhenty, mengingatkan seluruh jajaran pengawas di daerah untuk mewaspadai potensi pergeseran fungsi data hasil Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB). Hal ini menegaskan pentingnya antisipasi dan mitigasi risiko teknis terkait dengan kepastian status penggunaan data tersebut pada agenda pemilu mendatang.
"Kerawanan PDPB tidak sekadar saat proses pemutakhirannya dilakukan, tetapi yang paling fundamental adalah saat PDPB selesai dilakukan. Apakah data yang sudah kita mutakhirkan ini secara otomatis akan menjadi data sumber utama pemilih 2029 atau sebetulnya hanya sebagai data pendukung," tegas Lolly saat membuka kegiatan Penyusunan Pemetaan Kerawanan Isu Strategis Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Sebagai langkah antisipasi terhadap kekosongan regulasi dan kejelasan status data, Lolly menginstruksikan seluruh jajaran pengawas di daerah untuk memastikan dokumentasi hasil pengawasan PDPB tersusun secara rapi dan akurat.
"Pastikan hasil pengawasan PDPB kita itu terdokumentasi dengan baik. Jika sampai data ini hanya digunakan sebagai data pendukung, kita masih punya data pembanding sehingga proses pencermatan dan pengawasan yang kita lakukan dapat berjalan lebih cepat," lanjutnya.
Guna memperkuat efektivitas pengawasan di lapangan, Bawaslu juga mengumumkan perkembangan positif terkait dengan kerja sama teknis bersama Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri.
"Juknis kita dengan Ditjen Dukcapil akan selesai dua minggu lagi. Maknanya, kita akan punya akses masuk ke portal web sehingga bisa langsung melakukan pengecekan data pemilih secara terverifikasi berbasis NIK. Kami juga sedang mendorong akses ke web service agar analisis akurasi data dapat dilakukan secara otomatis," jelas Lolly.
Melalui integrasi teknologi dan kesiapan dokumentasi pengawasan yang solid di seluruh tingkatan, Bawaslu optimistis seluruh proses pengawasan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan dapat berjalan lebih optimal, transparan, dan akuntabel.
Foto: Jaka Fajar Nugraha
Editor: Bhakti Satrio