• English
  • Bahasa Indonesia
  • Perkecil
  • Normal
  • Perbesar

Anggota Bawaslu RI Dr. Ratna Dewi Pettalolo, SH, MH

3 Juli 2017

Anggota Bawaslu RI Dr. Ratna Dewi Pettalolo, SH, MH -Divisi Penindakan


Lahir di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah pada 10 Juni 1967. Anak keenam dari delapan bersaudara. Ayah bernama Andi Raga Pettalolo, seorang wedana yang bertugas di wilayah Donggala (salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah dan merupakan ibukota pertama) dan ibu bernama Hj. Daelira Dg. Sute, seorang ibu rumah tangga yang aktif di berbagai organisasi perempuan dan akhirnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Donggala selama 2 (dua) periode dan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah untuk masa bakti 2 (dua) periode.

Sebagian besar umur dihabiskan di Kota Palu, baik untuk mengikuti pendidikan formal sejak dari bangku SD, SMP, SMA sampai penyelesaikan kuliah S1, dan kegiatan sosial. Dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan tata krama. Sejak kecil diajarkan untuk hidup bertoleransi dan membangun kebersamaan dengan keluarga dan tetangga sekalipun berbeda keyakinan. Bahkan sekeluarga tinggal bersama dengan saudara angkat yang berbeda agama.

Menikah pada tahun 1991 dengan Sofyan Farid Lembah, S.H., M.H. yang saat ini bekerja sebagai Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Tengah. Perkawinan dianugerahi 2 (dua) orang anak, yang pertama perempuan bernama Nurul Amirah Ramadhani, S.Gzi, dan kedua laki-laki bernama Mohammad Faras Muhadzdzib, mahasiswa tingkat akhir pada Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako.

Orang tua berperan besar dalam pembentukan karakter hidup. Kemampuan berorganisasi dan kepemimpinan yang dimiliki adalah hasil pembelajaran yang didapatkan dari kedua orang tua. Suami juga menjadi sosok yang banyak berpengaruh dalam menjalani rutinitas kehidupan, baik di kantor maupun di rumah dengan mengajarkan tentang keteguhan hati mempertahankan idealisme, ketenangan, dan kesabaran merespons kritikan, bekerja ikhlas tanpa pamrih, dan menjaga kesetiaan.

Menjadi Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2012-2017. Bekerja sebagai Pengawas Pemilu sudah dimulai sejak tahun 2009 sebagai Ketua Panwaslu Kota Palu untuk Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, serta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Terlibat lagi sebagai anggota Pengawas Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Tahun 2011.

Pekerjaan tetap sebagai dosen pada bagian Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Tadulako sejak tahun 1993 sampai sekarang. Mengampu mata kuliah Pengantar Hukum Tata Negara, Hukum Tata Negara Lanjutan, Hukum Kelembagaan Negara, Hukum Parpol dan Pemilu, Ilmu Perundang-Undangan dan Teknik Perundang-Undangan. Di luar pekerjaan resmi sehari-hari melakukan kegiatan-kegiatan rutin rumah tangga, yaitu melaksanakan kewajiban sebagai istri dan ibu untuk anak-anak. Pekerjaan membersihkan rumah dan memasak dilakukan untuk menjaga kualitas hubungan keluarga. Demikian juga melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan, pengajian, menghadiri undangan untuk menjaga silaturahmi dengan tetangga dan keluarga.

Dewi aktif dalam berbagai organsasi yang menaruh perhatian terhadap isu perempuan dan anak, yaitu sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Tengah dan Ketua Divisi Women Trauma Center, P2TP2A Provinsi Sulawesi Tengah. Sudah sejak lama bergabung dalam lembaga ini dan telah menangani banyak kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta kasus perdagangan perempuan dan anak yang terjadi di wilayah Sulawesi Tengah.

Pada tahun 2007 pernah melakukan kegiatan besar dan penting di Provinsi Sulawesi Tengah, yaitu kegiatangender exhibition(pameran gender). Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan data dan informasi tentang kekerasan yang dialami oleh perempuan anak, baik yang terjadi di dalam rumah tangga maupun di wilayah publik, kondisi ekonomi perempuan, angka buta huruf perempuan, dan data dan informasi tentang angka kematian ibu dan anak, serta data dan informasi lainnya terkait dengan kondisi perempuan dan anak yang mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan tidak setara yang disebabkan oleh faktor sosial budaya dan faktor regulasi yang dilahirkan oleh negara yang didominasi oleh laki-laki atau oleh cara berpikir yang tidak setara tentang kedudukan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial kemasyarakatan ataupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sejak mengampuh mata kuliah hukum pemilu dan demokrasi pada tahun 2005, Dewi tertarik dengan masalah pemilu dan demokrasi. Oleh karena itu, pada tahun 2008 mengikuti seleksi pemilihan anggota Panwaslu Kota Palu untuk Pemilihan Angota DPR RI, DPD, dan DPRD, serta Presiden dan Wakil Presiden. Inilah titik awal ketertarikan terhadap pemilu karena bekerja langsung sebagai pengawas pemilu telah memberikan pelajaran penting tentang pelaksanaan pemilu yang jujur dan adil adalah sebuah kebutuhan penting dari pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

Semangat mengawasi pemilu menjadi poin penting yang membuat tertarik dengan lembaga pengawas pemilu sebagai bagian dari penting yang menentukan kualitas pemilu dan demokrasi di Indonesia.

Informasi Publik

Regulasi

Link Bawaslu Provinsi

Agenda Bawaslu

Bawaslu Live Stream

Hubungi Kami